Widget HTML Atas

cerita cinta penuh dosa, Novel Online Cinta yang Bikin Baper

Cerita cinta penuh dosa, Novel Online Cinta Terlarang yang Bikin Baper

Penuh gelora asmara di atas ranjang. Bunga seroja bergoyang sebut Urya mengibaratkan istri keduanya. Memiliki Alena adalah keberuntungan bahkan seolah api asmara itu tidak pernah padam meski berkali-kali bercumbu menari berhari-hari.

Wajahnya beraut membenam separuh laksana bulan sabit menyapa malam, teduh membuat hati selalu gemuruh. Kulit putih salju selembut kapas dengan bibir kasual alis tebal mata yang membelalak bercahaya, rambut hitam lurus mulus panjang mengkilau.

Pinggul meliuk seperti lebah berisi, paha padat yang cenderung mengecil mungil diujung tumit. Mulus tiada berbulu nampak semburat urat biru ungu agak samar terlapisi kulitnya yang putih sebening mutiara.

Semerbak harum aroma kopi melayang keudara tercium menyapa neutron-neutron di otaknya yang membawa laki-laki itu terbangun dari tidur nyeyak dan seolah Urya seperti bayi baru terlahir didunia.

Terasa berat, letih dan sedikit nyeri pada punggungnya, semalam benar-benar energinya habis untuk mengimbangi si Bunga Seroja Bergoyang. Cahaya melompat menembus pintu-pintu kaca menampar manja wajah membuat sidikit silau pandanganya.

"Udah bangun, Kak," sebuah suara menyapa dari bibir kasual menggoda. Menggoda dilumat berulang-ulang kali, "ini udah aku siapin kopi hitam manis kesukaan Kak Uya," imbuhnya.

"Makasih ya, Dek Na," balasnya lalu sebuah kecupan mendrat pada kening wanita yang selalu dalam hatinya dan pergi mandi.

Alena sengaja mengenakan hem kemeja putih, sedikit  longgar  milik Urya untuk menutupi tubuhnya  menutupi tubuh moleknya. Gelora asmara wanita cantik itu memang menyala-nyala, rindunya  belum lagi  tersembuhkan.

"Angin sepi-sepoi berhembus merasuk ke dalam tubuh bersama langit yang gelap ditemani sang bintang. Menjelma bulan selalu menemani malam sepi semilir tiada mesra.  Hati terdiam mencoba ingin menjerit karena kepedihan yang menyelimuti jiwa terlunta. Hadirnya bagai penerang selalu mendamaikan suasana hati yang gersang," gumam Bunga Seroja Bergoyang Manja.

"Dek ambilin handuknya dong," panggil Urya bukan menjulurkan melainkan mengembangkan kedua tangannya, mengundang Alena dalam pelukannya.  

"Iya Kak," balasnya lalu bergegas menghampiri lelaki berhidung mancung dengan mata tajam dalam kamar mandi. Bukan membawa handuk, justru kemeja putih tadi sudah terlempar begitu saja. 

Keduanya masih dilanda kerinduan, Alena menghamburkan dirinya dalam pelukan Urya, bagian bawah menyatu.  

"Pikirku adek udah mandi. Emang gak berangkat kerja? Nanti kesiangan lho," bisik Urya lekat sekali dimata Alena. Saling menatap, mengukur seberapa dalam kerinduan. 
"Aku ambil cuti, Kak,"  balas Alena menahan bibir bergetar. 

Urya tersenyum, hidungnya mendekat sekali. Alena perlahan membuka bibirnya bagai sekuntum bunga merekah menyambut mentari pagi. Kedua matanya menutup perlahan sebelum akhirnya sekuntum bunga merekah saling tertaut dalam desah lembut. 

Bunga Seroja Bergoyang merasakan betapa sebuah aliran hangat seperti listrik merayap bersama desir darah mengalir dari ujung kaki hingga ujung rambut. Menggelora lalu memenuhi dada, berdebar. 

Semendadak angin segala letih sirna, segalanya kembali bersemangat seolah mendapatkan energi berlimpah. Keduanya bagai embun pagi disapa panas matahari, menggelegak segalanya mendidih dan tidak terkendali. 

Mau bagaimana  lagi? Sepertinya kali ini Urya benar-benar tertindas bahkan punggungnya saja masih sedikit nyeri sudah tiada ampun. Alena sudah tidak sabar dipeluk-manja-mendesah-membuncah. Sebuah gelagak terhimpun kembali lebih kuat diantara keduanya.

Tarian kali ini agak berbeda. Getaran-pagutan terasa bagai campuran antara gelora dan kecemasan membanjiri rindu tidak pernah usai. Sekejap, Urya merasakan keintiman berlainan dari ketakutan, tidak melulu soal birahi. Jauh dilubuk hati keduanya muncul kekhwatiran akan kehilangan satu dengan yang lain.

Kedua tangan Urya memang meremas-mengeras setiap inci kesunyian pegunungan melandai-landai. Entah mengapa dalam palung jiwa Urya justru teringat Eva, memikirkanya. Apakah keadaanya baik-baik saja? Atau ....

"Tubuhku bersamamu, Dek Na. Sedangkan jiwaku hanya milik,  Dek Va." Gumamnya Urya dalam hati, seketika tarian  terhenti sejenak karena lamunan. Inikah yang dinamakan musim hujan gersang, kutukan macam apa itu?

Bunga Seroja Bergoyang terus dan terus menyerang membangkitkan hormon dalam tubuh Urya. Urya berjingkat, memeluk bidadari itu lebih kuat. 

Lebih dasyat, ayuk lakukan apa yang seharusnya dilakukan, luapkan saja tanpa ditahan sama sekali. Biarkan semuanya berpacu dalam desah. 

Cukup lama Urya  menggempur habis-habisan pertahanan Seroja Bergoyang.   Tertusuk hanya tidak berdarah. Bukanya menyerah malah justru pasang kuda-kuda, ada semacam perasaan aneh memenuhi diri Alena, semacam perasaan seolah bukan di dunia nyata.  Semuanya kini kembali seperti dunia khayal,  sejekejap merayap, sekejap pula lenyap. 

Tarian keduanya membawa pada serangan demam dalam tubuh, mula-mula  melaju maju ... kemudian  cepat melesak. 

Gempuran demi gempuran pada perang kerinduan itu berakhir pada ledakan dahsyat dalam dada, lemas. Tepar kelonjotan tidak berdaya. 

Selesai mandi dan mencelakakan, dilanjutkan dengan makan bersama. Energi yang terkuras habis harus diisi lagi. Jika tidak? Bisa tidak mampu berdiri lagi. Mumpung bersama, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di Bali mengunjungi Tanah Lot.

BerandaCerita BaperCinta Terlarang Ini Dosa Siapa? I Bunga Seroja Bergoyang I Bagian 16byBebeb Admin—September 18, 20201
Baca Novel Online Cinta Terlarang yang Bikin Baper 

Penuh gelora asmara di atas ranjang. Bunga seroja bergoyang sebut Urya mengibaratkan istri keduanya. Memiliki Alena adalah keberuntungan bahkan seolah api asmara itu tidak pernah padam meski berkali-kali bercumbu menari berhari-hari.

Wajahnya beraut membenam separuh laksana bulan sabit menyapa malam, teduh membuat hati selalu gemuruh. Kulit putih salju selembut kapas dengan bibir kasual alis tebal mata yang membelalak bercahaya, rambut hitam lurus mulus panjang mengkilau.

Pinggul meliuk seperti lebah berisi, paha padat yang cenderung mengecil mungil diujung tumit. Mulus tiada berbulu nampak semburat urat biru ungu agak samar terlapisi kulitnya yang putih sebening mutiara.

Semerbak harum aroma kopi melayang keudara tercium menyapa neutron-neutron di otaknya yang membawa laki-laki itu terbangun dari tidur nyeyak dan seolah Urya seperti bayi baru terlahir didunia.

Terasa berat, letih dan sedikit nyeri pada punggungnya, semalam benar-benar energinya habis untuk mengimbangi si Bunga Seroja Bergoyang. Cahaya melompat menembus pintu-pintu kaca menampar manja wajah membuat sidikit silau pandanganya.
 
"Udah bangun, Kak," sebuah suara menyapa dari bibir kasual menggoda. Menggoda dilumat berulang-ulang kali, "ini udah aku siapin kopi hitam manis kesukaan Kak Uya," imbuhnya.

"Makasih ya, Dek Na," balasnya lalu sebuah kecupan mendrat pada kening wanita yang selalu dalam hatinya dan pergi mandi.

Alena sengaja mengenakan hem kemeja putih, sedikit  longgar  milik Urya untuk menutupi tubuhnya  menutupi tubuh moleknya. Gelora asmara wanita cantik itu memang menyala-nyala, rindunya  belum lagi  tersembuhkan.

"Angin sepi-sepoi berhembus merasuk ke dalam tubuh bersama langit yang gelap ditemani sang bintang. Menjelma bulan selalu menemani malam sepi semilir tiada mesra.  Hati terdiam mencoba ingin menjerit karena kepedihan yang menyelimuti jiwa terlunta. Hadirnya bagai penerang selalu mendamaikan suasana hati yang gersang," gumam Bunga Seroja Bergoyang Manja.
 
"Dek ambilin handuknya dong," panggil Urya bukan menjulurkan melainkan mengembangkan kedua tangannya, mengundang Alena dalam pelukannya.  

"Iya Kak," balasnya lalu bergegas menghampiri lelaki berhidung mancung dengan mata tajam dalam kamar mandi. Bukan membawa handuk, justru kemeja putih tadi sudah terlempar begitu saja. 

Keduanya masih dilanda kerinduan, Alena menghamburkan dirinya dalam pelukan Urya, bagian bawah menyatu.  

"Pikirku adek udah mandi. Emang gak berangkat kerja? Nanti kesiangan lho," bisik Urya lekat sekali dimata Alena. Saling menatap, mengukur seberapa dalam kerinduan. 
"Aku ambil cuti, Kak,"  balas Alena menahan bibir bergetar. 

Urya tersenyum, hidungnya mendekat sekali. Alena perlahan membuka bibirnya bagai sekuntum bunga merekah menyambut mentari pagi. Kedua matanya menutup perlahan sebelum akhirnya sekuntum bunga merekah saling tertaut dalam desah lembut. 

Bunga Seroja Bergoyang merasakan betapa sebuah aliran hangat seperti listrik merayap bersama desir darah mengalir dari ujung kaki hingga ujung rambut. Menggelora lalu memenuhi dada, berdebar. 

Semendadak angin segala letih sirna, segalanya kembali bersemangat seolah mendapatkan energi berlimpah. Keduanya bagai embun pagi disapa panas matahari, menggelegak segalanya mendidih dan tidak terkendali. 

Mau bagaimana  lagi? Sepertinya kali ini Urya benar-benar tertindas bahkan punggungnya saja masih sedikit nyeri sudah tiada ampun. Alena sudah tidak sabar dipeluk-manja-mendesah-membuncah. Sebuah gelagak terhimpun kembali lebih kuat diantara keduanya.

Tarian kali ini agak berbeda. Getaran-pagutan terasa bagai campuran antara gelora dan kecemasan membanjiri rindu tidak pernah usai. Sekejap, Urya merasakan keintiman berlainan dari ketakutan, tidak melulu soal birahi. Jauh dilubuk hati keduanya muncul kekhwatiran akan kehilangan satu dengan yang lain.

Kedua tangan Urya memang meremas-mengeras setiap inci kesunyian pegunungan melandai-landai. Entah mengapa dalam palung jiwa Urya justru teringat Eva, memikirkanya. Apakah keadaanya baik-baik saja? Atau ....

"Tubuhku bersamamu, Dek Na. Sedangkan jiwaku hanya milik,  Dek Va." Gumamnya Urya dalam hati, seketika tarian  terhenti sejenak karena lamunan. Inikah yang dinamakan musim hujan gersang, kutukan macam apa itu?

Bunga Seroja Bergoyang terus dan terus menyerang membangkitkan hormon dalam tubuh Urya. Urya berjingkat, memeluk bidadari itu lebih kuat. 

Lebih dasyat, ayuk lakukan apa yang seharusnya dilakukan, luapkan saja tanpa ditahan sama sekali. Biarkan semuanya berpacu dalam desah. 


Cukup lama Urya  menggempur habis-habisan pertahanan Seroja Bergoyang.   Tertusuk hanya tidak berdarah. Bukanya menyerah malah justru pasang kuda-kuda, ada semacam perasaan aneh memenuhi diri Alena, semacam perasaan seolah bukan di dunia nyata.  Semuanya kini kembali seperti dunia khayal,  sejekejap merayap, sekejap pula lenyap. 

Tarian keduanya membawa pada serangan demam dalam tubuh, mula-mula  melaju maju ... kemudian  cepat melesak. 

Gempuran demi gempuran pada perang kerinduan itu berakhir pada ledakan dahsyat dalam dada, lemas. Tepar kelonjotan tidak berdaya. 


Selesai mandi dan mencelakakan, dilanjutkan dengan makan bersama. Energi yang terkuras habis harus diisi lagi. Jika tidak? Bisa tidak mampu berdiri lagi. Mumpung bersama, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di Bali mengunjungi Tanah Lot.



Destinasi pantai di Bali memang banyak pilihan, salah satunya Tanah Lot. Tempat wisata ini terletak di Desa Beraban, Tabanan dan hanya terpisah sekitar 24 km dari Pantai Kuta. Mereka berdua mengambil rute tercepat agar terhindar oleh macet, berkendara dengan sepeda motor yang Urya sewa melalui Jalan By Pass Tanah Lot.

Keunikan tempat wisata yang satu ini adalah adanya pura yang berada di atas batu karang yang menjorok ke tengah laut. Selain itu, di dalam gua yang terletak di bawah tebing terdapat ular yang dikeramatkan. Legenda yang diyakini masyarakat lokal adalah bahwa ular tersebut merupakan jelmaan selendang Dang Hyang Niratha, keturunan Brahmana pada abad XVI.

Untuk menikmati suasana dan pemandangan di Tanah Lot, wisatawan lokal usia dewasa seperti mereka dikenakan biaya sebesar Rp 30.000,00 per orang. Biasanya para pengunjung yang mendatangi Tanah Lot mulai pukul 07.00 sampai 19.00 WITA, sedangkan mereka tiba tepat tengah hari.

Selain menyaksikan langsung pura Tanah Lot yang terkenal dan ular suci di dalam gua, tujuan Urya dan istri simpananya itu ingin menikmati matahari terbenam sore nanti. Bermodal kamera hape sengaja mereka mengabadikan moment indah kebersamaanya.

"Kak Urya sayang gak sih ama Adek?"
"Kalau gak sayang masak Kakak disini." Urya dengan membelai mesra pipi Alena "Kenapa, Dek Na?"

"Tau gak Kak? Di sini biasa saat detik-detik tergelincirnya matahari di ufuk barat dari tebing. Banyak pasangan yang menjadikan lokasi ini sebagai latar foto prewedding lho?"

"Lalu?"
"Lala lalang," balas wanita cantik itu ketus.
"Gitu aja kok ngambek?"
"Kalau aku hamil bagaimana dengan surat-menyurat anak kita, Kak?"

Pertanyaan itu bagaikan petir bergelegar yang menyambar. Urya hanya diam seribu bahasa. Apa yang harus dilakukanya?

Sebuah jalan buntu dalam labirin otaknya yang terjebak tidak tau harus berkata apa? Maju kena mundurpun kena. Apa yang dia khawatirkan selama ini ternyata benar, pertanyaan semacam itu pasti akan muncul.

Alena memang tidak bersalah itu sudah menjadi haknya. Bukankah selama ini Urya menginginkan kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya? Tanpa disangka, pertanyaan itu seperti anak panah yang terlepas dari busurnya mengenai tepat jantung Urya.

"Siapapun dari kalian yang bisa memberiku keturunan, di situlah rumah yang aku tuju. Aku rela menderita seribu tahun kehujanan dan kepanasan menjadi jembatan asalkan orang yang aku cinta bisa melewati jalan itu."
 
"Kalau Mbak Va yang hamil apa Kakak akan meninggalkanku? Atau kalau aku yang hamil apa Kakak akan meninggalkannya?"

Lagi-lagi Urya terkena anak panah untuk kedua kalinya. Kenapa pertanyaan semacam itu harus muncul? 

"Kamu hatiku dan dia Jiwaku! Bagaimana harus memilih salah satu? Udahlah jangan tanyakan hal semacam itu lagi. Kita disini ingin bersenang-senag bukan? Kenapa malah merusak suasana?"

"Aku sadar Kak! Kalau memang pada akhirnya Kak Urya tetap bersama dengan mbak Va aku rela. Tapi Kakak harus membuat keputusan!"

"Lalu sumpahmu? Kamu sudah bersumpah bahwa seumur hidup hanya akan memberikan mahkotamu pada suamimu saja dan itu aku."

"Ya aku tau dan ingat. Dan Kakak pun tau aku akan selalu memegang teguh janjiku itu."

Sejenak hening tanpa kata terucap, mereka terdiam dari perdebatan yang menyakitkan. Sesuatu mengganjal dalam hati. Sesak menggumpal memenuhi rongga dada, sakitnya tuh disini, di dalam hati.

Waktu berjalan begitu lambat seperti pada matrix melayang terhenti. Menjejakkan langkah kaki menapak tanah, menyisir bebatu tajam yang hiasi jalanan bumi. Berdarah.

Sesekali debu kotor jalanan menerpa kulit pucat wajah bersama matahari hangat yang membakar terkapar disepanjang jalan, disapa dengan kemunafikan, langkah-langkah seirama dengan membentuk lingkaran karma yang menyakitkan.

Merintih, tidak lagi diperdulikan. Menangis tidak lagi diperhatikan..
Bahkan teriakan yang hampir memutuskan pita suara 'pun tidak lagi di dengar oleh mereka. Ya mereka yang ada hanya bisa menyalahkan kesalahan orang lain. Lalu kesalahanya sendiri?

Sayub sebuah prosa terdengar dari rangkaian aksara sesakan dada :

Kepada yang jatuh cinta terlarang, suka dengan suami orang, tidak bisa berpaling dari orang yang sama dan hal-hal yang pahit itu.

Demikan untuk kau yang pernah mencintai tapi dikhianati dan juga pernah mengkhianati lalu menyadari semua tidak akan baik untuk hati. Aku pernah diposisi itu, boleh mengenang asal ingat jalan pulang.

Jadikan sebuah pembelajaran, memilih menjadi ranting bercabang, ingatlah kapan saja akan mudah patah. Terkadang ranting patah itu memang menyakitkan, hanya saja tetap akan menjadi sebuah pertumbuhan.


Baca Juga

1 comment for "cerita cinta penuh dosa, Novel Online Cinta yang Bikin Baper"

  1. Tolong hapus cerita saya ini. Jangan asal main comot tanpa ijin ya.

    Nomer kontak lu mana, biar bisa bicara.

    ReplyDelete

Post a Comment

Jika ada yang masih kurang jelas, silahkan untuk bertanya pada kolom komentar di bawah ini atau dengan menghubungi kami di halaman kontak.

1. Centang kotak Notify me/Beri tahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar.
2. Semua komentar dengan menambahkan link akan dihapus dan tidak akan dipublikasikan.

close